Ciri-ciri
Ranah Penilaian Afektif - Pemikiran
atau perilaku harus memiliki dua kriteria untuk diklasifikasikan sebagai ranah
afektif (Andersen, 1981:4). Pertama, perilaku melibatkan perasaan dan emosi
seseorang. Kedua, perilaku harus tipikal perilaku seseorang. Kriteria lain yang
termasuk ranah afektif adalah intensitas, arah, dan target. Intensitas
menyatakan derajat atau kekuatan dari perasaan. Beberapa perasaan lebih kuat
dari yang lain, misalnya cinta lebih kuat dari senang atau suka. Sebagian orang
kemungkinan memiliki perasaan yang lebih kuat dibanding yang lain. Arah
perasaan berkaitan dengan orientasi positif atau negatif dari perasaan yang
menunjukkan apakah perasaan itu baik atau buruk.
Misalnya
senang pada pelajaran dimaknai positif, sedang kecemasan dimaknai negatif. Bila
intensitas dan arah perasaan ditinjau bersama-sama, maka karakteristik afektif
berada dalam suatu skala yang kontinum. Target mengacu pada objek, aktivitas,
atau ide sebagai arah dari perasaan. Bila kecemasan merupakan karakteristik
afektif yang ditinjau, ada beberapa kemungkinan target. Peserta didik mungkin
bereaksi terhadap sekolah, matematika, situasi sosial, atau pembelajaran. Tiap
unsur ini bisa merupakan target dari kecemasan. Kadang-kadang target ini
diketahui oleh seseorang namun kadang-kadang tidak diketahui. Seringkali
peserta didik merasa cemas bila menghadapi tes di kelas. Peserta didik tersebut
cenderung sadar bahwa target kecemasannya adalah tes.
Ada
5 tipe karakteristik afektif yang penting berdasarkan tujuannya, yaitu sikap,
minat, konsep diri, nilai, dan moral.
1. Sikap
Sikap
merupakan suatu kencendrungan untuk bertindak secara suka atau tidak suka
terhadap suatu objek. Sikap dapat dibentuk melalui cara mengamati dan menirukan
sesuatu yang positif, kemudian melalui penguatan serta menerima informasi
verbal. Perubahan sikap dapat diamati dalam proses pembelajaran, tujuan yang
ingin dicapai, keteguhan, dan konsistensi terhadap sesuatu. Penilaian sikap
adalah penilaian yang dilakukan untuk mengetahui sikap peserta didik terhadap
mata pelajaran, kondisi pembelajaran, pendidik, dan sebagainya.
Menurut
Fishbein dan Ajzen (1975) sikap adalah suatu predisposisi yang dipelajari untuk
merespon secara positif atau negatif terhadap suatu objek, situasi, konsep,
atau orang. Sikap peserta didik terhadap objek misalnya sikap terhadap sekolah
atau terhadap mata pelajaran. Sikap peserta didik ini penting untuk
ditingkatkan (Popham, 1999). Sikap peserta didik terhadap mata pelajaran,
misalnya bahasa Inggris, harus lebih positif setelah peserta didik mengikuti
pembelajaran bahasa Inggris dibanding sebelum mengikuti pembelajaran. Perubahan
ini merupakan salah satu indikator keberhasilan pendidik dalam melaksanakan
proses pembelajaran. Untuk itu pendidik harus membuat rencana pembelajaran
termasuk pengalaman belajar peserta didik yang membuat sikap peserta didik
terhadap mata pelajaran menjadi lebih positif.
2. Minat
Menurut
Getzel (1966), minat adalah suatu disposisi yang terorganisir melalui
pengalaman yang mendorong seseorang untuk memperoleh objek khusus, aktivitas,
pemahaman, dan keterampilan untuk tujuan perhatian atau pencapaian. Sedangkan
menurut kamus besar bahasa Indonesia (1990: 583), minat atau keinginan adalah
kecenderungan hati yang tinggi terhadap sesuatu. Hal penting pada minat adalah
intensitasnya. Secara umum minat termasuk karakteristik afektif yang memiliki
intensitas tinggi.
Penilaian
minat dapat digunakan untuk:
- mengetahui minat peserta didik
sehingga mudah untuk pengarahan dalam pembelajaran,
- mengetahui bakat dan minat
peserta didik yang sebenarnya,
- pertimbangan penjurusan dan
pelayanan individual peserta didik,
- menggambarkan keadaan langsung
di lapangan/kelas,
Mengelompokkan
didik yang memiliki peserta minat sama, f. acuan dalam menilai kemampuan
peserta didik secara keseluruhan dan memilih metode yang tepat dalam
penyampaian materi,
- mengetahui tingkat minat
peserta didik terhadap pelajaran yang diberikan pendidik,
- bahan pertimbangan menentukan
program sekolah,
- meningkatkan motivasi belajar
peserta didik.
3. Konsep Diri
Menurut
Smith, konsep diri adalah evaluasi yang dilakukan individu terhadap kemampuan
dan kelemahan yang dimiliki. Target, arah, dan intensitas konsep diri pada
dasarnya seperti ranah afektif yang lain. Target konsep diri biasanya orang
tetapi bisa juga institusi seperti sekolah. Arah konsep diri bisa positif atau
negatif, dan intensitasnya bisa dinyatakan dalam suatu daerah kontinum, yaitu
mulai dari rendah sampai tinggi.
Konsep
diri ini penting untuk menentukan jenjang karir peserta didik, yaitu dengan
mengetahui kekuatan dan kelemahan diri sendiri, dapat dipilih alternatif karir
yang tepat bagi peserta didik. Selain itu informasi konsep diri penting bagi
sekolah untuk memberikan motivasi belajar peserta didik dengan tepat.
Penilaian
konsep diri dapat dilakukan dengan penilaian diri. Kelebihan dari penilaian
diri adalah sebagai berikut:
- Pendidik mampu mengenal
kelebihan dan kekurangan peserta didik.
- Peserta didik mampu merefleksikan
kompetensi yang sudah dicapai.
- Pernyataan yang dibuat sesuai
dengan keinginan penanya.
- Memberikan motivasi diri dalam
hal penilaian kegiatan peserta didik.
- Peserta didik lebih aktif dan
berpartisipasi dalam proses pembelajaran.
- Dapat digunakan untuk acuan
menyusun bahan ajar dan mengetahui standar input peserta didik.
- Peserta didik dapat mengukur
kemampuan untuk mengikuti pembelajaran.
- Peserta didik dapat mengetahui
ketuntasan belajarnya.
- Melatih kejujuran dan
kemandirian peserta didik.
- Peserta didik mengetahui
bagian yang harus diperbaiki.
- Peserta didik memahami
kemampuan dirinya.
- Pendidik memperoleh masukan
objektif tentang daya serap peserta didik.
- Mempermudah pendidik untuk
melaksanakan remedial, hasilnya dapat untuk instropeksi pembelajaran yang
dilakukan.
- Peserta didik belajar terbuka
dengan orang lain.
- Peserta didik mampu menilai
dirinya.
- Peserta didik dapat mencari
materi sendiri.
- Peserta didik dapat
berkomunikasi dengan temannya.
4. Nilai
Nilai
menurut Rokeach (1968) merupakan suatu keyakinan tentang perbuatan, tindakan,
atau perilaku yang dianggap baik dan yang dianggap buruk. Selanjutnya
dijelaskan bahwa sikap mengacu pada suatu organisasi sejumlah keyakinan sekitar
objek spesifik atau situasi, sedangkan nilai mengacu pada keyakinan.
Target
nilai cenderung menjadi ide, target nilai dapat juga berupa sesuatu seperti
sikap dan perilaku. Arah nilai dapat positif dan dapat negatif. Selanjutnya
intensitas nilai dapat dikatakan tinggi atau rendah tergantung pada situasi dan
nilai yang diacu.
Definisi
lain tentang nilai disampaikan oleh Tyler (1973:7), yaitu nilai adalah suatu
objek, aktivitas, atau ide yang dinyatakan oleh individu dalam mengarahkan
minat, sikap, dan kepuasan. Selanjutnya dijelaskan bahwa manusia belajar
menilai suatu objek, aktivitas, dan ide sehingga objek ini menjadi pengatur
penting minat, sikap, dan kepuasan. Oleh karenanya satuan pendidikan harus
membantu peserta didik menemukan dan menguatkan nilai yang bermakna dan
signifikan bagi peserta didik untuk memperoleh kebahagiaan personal dan memberi
konstribusi positif terhadap masyarakat.
5. Moral
Piaget
dan Kohlberg banyak membahas tentang per-kembangan moral anak. Namun Kohlberg
mengabaikan masalah hubungan antara judgement moral dan tindakan moral.
Ia hanya mempelajari prinsip moral seseorang melalui penafsiran respon verbal
terhadap dilema hipotetikal atau dugaan, bukan pada bagaimana sesungguhnya
seseorang bertindak.
Moral
berkaitan dengan perasaan salah atau benar terhadap kebahagiaan orang lain atau
perasaan terhadap tindakan yang dilakukan diri sendiri. Misalnya menipu orang
lain, membohongi orang lain, atau melukai orang lain baik fisik maupun psikis.
Moral juga sering dikaitkan dengan keyakinan agama seseorang, yaitu keyakinan
akan perbuatan yang berdosa dan berpahala. Jadi moral berkaitan dengan prinsip,
nilai, dan keyakinan seseorang.
Ranah
afektif lain yang penting adalah:
- Kejujuran: peserta didik harus
belajar menghargai kejujuran dalam berinteraksi dengan orang lain.
- Integritas: peserta didik harus
mengikatkan diri pada kode nilai, misalnya moral dan artistik.
- Adil: peserta didik harus
berpendapat bahwa semua orang mendapat perlakuan yang sama dalam
memperoleh pendidikan.
- Kebebasan: peserta didik harus
yakin bahwa negara yang demokratis memberi kebebasan yang bertanggung
jawab secara maksimal kepada semua orang.
Tabel
Kaitan antara kegiatan pembelajaran dengan domain tingkatan aspek Afektif
Tingkat
|
Contoh kegiatan pembelajaran
|
Penerimaan (Receiving)
|
Arti : Kepekaan (keinginan
menerima/memperhatikan) terhadap fenomena/stimult menunjukkan perhatian
terkontrol dan terseleksi
Contoh
kegiatan belajar :
-sering
mendengarkan musik
-
senang membaca puisi
-
senang mengerjakan soal matematik
-
ingin menonton sesuatu
-
senang menyanyikan lagu
|
Responsi (Responding)
|
Arti : menunjukkan perhatian aktif
melakukan sesuatu dengan/tentang fenomena setuju, ingin, puas meresponsi
(mendengar)
Contoh
kegiatan belajar :
- mentaati aturan
- mengerjakan tugas
- mengungkapkan perasaan
- menanggapi pendapat
- meminta maaf atas kesalahan
- mendamaikan orang yang bertengkar
- menunjukkan empati
- menulis puisi
- melakukan renungan
- melakukan introspeksi
|
Acuan Nilai
(
Valuing)
|
Arti : Menunjukkan konsistensi
perilaku yang mengandung nilai, termotivasi berperilaku sesuai dengan
nilai-nilai yang pasti
Tingkatan
: menerima, lebih menyukai, dan menunjukkan komitmen terhadap suatu nilai
Contoh
Kegiatan Belajar :
- mengapresiasi seni
- menghargai peran
- menunjukkan perhatian
- menunjukkan alasan
- mengoleksi kaset lagu, novel,
atau barang antik
- menunjukkan simpati kepada
korban pelanggaran HAM
- menjelaskan alasan senang
membaca novel
|
Organisasi
|
Arti : mengorganisasi nilai-nilai
yang relevan ke dalam suatu sistem menentukan saling hubungan antar nilai
memantapkan suatu nilai yang dominan dan diterima di mana-mana memantapkan
suatu nilaimyang dominan dan diterima di mana-mana
Tingkatan
: konseptualisasi suatu nilai, organisasi suatu sistem nilai
Contoh
kegiatan belajar :
- rajin, tepat waktu
- berdisiplin diri
mandiri dalam bekerja secara independen
- objektif dalam memecahkan
masalah
- mempertahankan pola hidup
sehat
- menilai masih pada fasilitas
umum dan mengajukan saran perbaikan
- menyarankan pemecahan masalah
HAM
- menilai kebiasaan konsumsi
- mendiskusikan cara-cara
menyelesaikan konflik antar- teman
|