Langkah-langkah
proses pembelajaran dengan menggunakan pendekatan PAKEM dapat dilakukan sebagai
berikut:
Langkah
pertama: Persiapan. Sudah barang tentu,
pendidik telah menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) sebagai
persiapan formal untuk menerapkan metode mengajar ini. Guru juga telah
mempersiapan semua perangkat media, alat, dan prasyarat lain yang diperlukan
untuk melaksanakan metode ini, misalnya (1) surat perizinan (jika diperlukan),
(2) contoh instrumen wawancara yang akan digunakan oleh siswa, (3) contoh
tulisan tentang kisah seorang pekerja keras yang berhasil di suatu desa, contoh
”Petani Pepaya”,”Pedagang Bunga”, dan sebagainya. Metode mengajar ini akan dilaksanakan
dengan membawa siswa untuk mengikuti oubond ke suatu daerah pedesaan.
Anak-anak selama sehari atau dua hari untuk mengumpulkan data dan informasi
tentang mata pencaharian penduduk, dan kemudian menuliskan tentang apa-apa yang
dapat diperoleh dari kegiatan tersebut. Langkah persiapan ini dilakukan oleh
guru jauh sebelum proses pembelajaran dimulai.
Langkah
kedua: Membuka pelajaran. Jangan
lupa memberikan salam kepada semua siswa. Beritahukan kepada siswa bahwa untuk
pelajaran kali ini, para siswa akan diajak untuk melaksanakan proses belajar
mengajar dengan metode yang belum pernah dilakukan, yakni yang disebut sebagai foxfire.
Berikan kepada siswa tentang metode foxfire ini secara jelas. Metode mengajar
ini sudah cukup efektif dapat dilaksanakan untuk siswa kelas tinggi di Sekolah
Dasar, misalnya kelas V dan VI. Topik mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial
(IPS) yang akan diajarkan misalnya adalah ”Mata Pencaharian”. Ada beberapa
informasi yang harus disampaikan kepada siswa.
1.
Guru menjelaskan bahwa para siswa dalam waktu sehari dua hasil akan diajak
untuk mengumpulkan data tentang mata pencaharian penduduk desa. Para siswa
diberikan keterampilan untuk mengumpulkan data dengan cara melakukan wawancara
dengan masyarakat desa. Bahkan kalau perlu melakukan observasi partisipatif,
misalnya ikut memerah susu sapi, ikut menanam padi, atau ikut
membuat barang-barang keterampilan, dan sebagainya. Metode ini dalam beberapa
hal sama dengan metode widyawisata atau sinau wisata, atau sekarang banyak
dikenal dengan outbound di daerah alam pegunungan, di daerah pedesaan. Kalau
perlu untuk melaksanakan kegiatan ini dibentuk panitia kecil, atau pembagian
tugas untuk pekerjaan-pekerjaan yang dapat dilakukan oleh siswa dengan
didampingi oleh dewan pendidik.
2.
Untuk dapat menulis tentang data yang berhasil dikumpulkan, para siswa
diberikan keterampilan dasar tentang menulis. Misalnya membuat kalimat aktif
secara singkat dalam bentuk S/P/O atau subyek-predikat-obyek. Anak-anak
dibiasakan dapat menulis kalimat aktif, singkat dan tidak bertele-tele. Guru
menjelaskan metode 5H dan 1W atau enam aspek yang penting dalam membuat
karangan, yakni apa, dimana, siapa, when, mengapa, dan bagaimana. Apa yang terjadi,
dimana kejadian itu, siapa yang terlibat dalam kejadian itu, kapan terjadinya,
mengapa hal itu terjadi, dan bagaimana proses kejadian itu.
3.
Hal yang sangat penting untuk dijelaskan kepada siswa adalah tentang rencana
penerbitan semua tulisan yang dihasilkan dari kegiatan ini. Kalau ada penerbit
yang akan menerbitkan tulisan tersebut, maka sekolah akan menerbitkan dalam
bentuk buletin sekolah, atau juga dapat dipajangkan di majalah dinding yang
dikelola oleh para siswa.
Langkah
Ketiga: Guru dan
siswa berangkat ke daerah yang telah ditetapkan. Dengan bimbingan
beberapa guru yang dilibatkan dalam kegiatan ini, siswa mulai melakukan
kegiatan pengumpulan data dengan menggunakan instrumen wawancara yang telah
diberikan kepada siswa. Ada beberapa siswa yang bertugas mengambil gambar
dengan menggunakan handycam dan tustel yang sengaja mereka bawa. Dengan
semangat, para siswa mecari dan menemui responden yang telah ditetapkan.
Minimal siswa harus dapat mewawancari, misalnya 5 (lima) responden di daerah itu.
Jika ada kesempatan, para siswa dapat melakukan kegiatan observasi partisipatif
bersama penduduk di daerah itu, misalnya ikut menanam padi, ikut memanen kopi,
ikut memerah susu sapi, dan kegiatan lainnya.
Kegiatan ini akan lebih dapat memberikan pengalaman belajar yang sangat
menyenangkan dan mengesankan bagi siswa. Setelah kegiatan pengumpulan data dan
informasi selesai dilaksanakan, maka para guru dan siswa kembali ke sekolah
dengan menggunakan transportasi yang telah disiapkan. Selama perjalan pulang
pergi para siswa dan guru dapat bernyanyi dengan girangnya. Pesawat televisi di
bus biasanya dapat memutar lagu-lagu karaoke yang sangat bermanfaat untuk
kegiatan yang menyenangkan ini. Lagu-lagu dan permainan pramuka dapat juga
digunakan untuk menggairahkan semangat para siswa.
Langkah
keempat: Pengolahan
data dan informasi yang berhasil dikumpulkan kemudian dapat dilakukan di
sekolah. Para siswa mengisi tabel yang telah disiapkan, menjumlah data
statistik, menghitung prosentase, mengumpulkan foto yang berhasil dicetak, bahkan dapat pula membuat
grafik yang diperlukan. Dari hasil pengolahan data dan informasi itulah
kemudian dibuatkan tulisan. Para guru perlu memberikan bimbingan kepada siswa
bagaimana menulis dengan baik. Berikan kesempatan seluas-luasnya kepada siswa
untuk melakukannya sendiri. Jangan sekali-kali membuatkan tulisan untuk siswa.
Biarkan siswa membuat konsepnya, lalu berikan kepada teman lainnya untuk
membaca dan mengoreksi tulisan tersebut. Tulisan itu dikoreksi juga oleh para
guru. Akan lebih baik lagi jika semua itu dapat dikerjakan di ruang
laboratorium komputer. Kalau para siswa belum mempunyai kemampuan menulis dengan
mesin ketik atau menggunakan program Micorsoft Word di komputer, para siswa
dapat menulis di kertas biasa. Itu sudah terlalu cukup.
Langkah
Kelima: Adakan
diskusi kelas untuk membahas hasil pekerjaan siswa tersebut. Berikan
kesempatan kepada siswa yang diberikan tugas untuk menulis untuk menjelaskan
tentang tulisan yang dihasilkan. Kemudian, berikan kepada semua siswa, atau
kepada semua kelompok untuk memberikan komentar dan koreksi terhadap tulisan
tersebut. Guru dapat memberikan komentar dan koreksi terhadap tulisan tersebut.
Jangan sampai lupa memberikan apresiasi kepada para siswa yang telah
melaksanakan kegiatan ini.
Langkah
Keenam: Pajanglah
semua hasil tulisan siswa tersebut di tempat yang telah ditentukan. Jangan
sekali-kali ada tulisan yang tidak dipajang. Berikan kesempatan kepada kelas
lain untuk menyaksikan hasil pekerjaan siswa. Ajak kepala sekolah dan guru
lainnya untuk memberikan apresiasi terhadap hasil pekerjaan siswa.
Langkah
ketujuh:
Undang penerbit untuk kemungkinan dapat menerbitkan semua hasil tulisan
siswa. Kalau bisa langsung dapat diterbitkan. Kalau perlu dapat diedit terlebih
dahulu oleh tim yang dibentuk untuk itu. Kalau tidak dapat diterbitkan oleh
penerbit, maka sekolah dapat menerbitkan dalam bentuk majalah sekolah, atau dapat
dijadikan bahan untuk penerbitan majalan dinding di sekolah.
Jika hasil
tulisan siswa memang layak diterbitkan menjadi buku yang laku dijual di pasar,
maka tidak mustahil sekolah akan memperoleh keuntungan yang tidak kecil dari
kegiatan ini. Demikian juga dengan siswa. Kalau metode ini dapat berjalan
dengan lancar, maka uang yang diperoleh dari kegiatan ini dapat digunakan untuk
mengadakan peralatan yang diperlukan oleh siswa, misalnya papan soft board,
rak display, dan kalau perlu dapat untuk menambah koleksi bukau di
perpustakaan sekolah. Alangkah indahnya kalau ini dapat dicapai. Siapa bilang
sekolah tidak dapat memperoleh income yang merupakan hasil dari kristalisasi
keringat, para guru dan siswanya. Begitulah kata Tukul? Mudah-mudahan.
Refleksi
Metode
mengajar ini memang masih terasa agak asing bagi kebanyakan guru di negeri ini.
Tetapi, jika para pendidik dapat mencoba untuk menerapkannya, maka metode itu
akan membuat proses pembelajaran berlangsung lebih unik dan menarik. Pada
awalnya, mungkin akan terasa sulit, karena semua permulaan itu memang sulit. All
beginning is difficult.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar